4:10 AM
"Saya Jadi PSK demi Masa Depan Empat Anak Saya"
Seorang perempuan berusia
41 tahun terlihat duduk di ruang tamu di sebuah wisma di lokasi
pelacuran Suko, Dusun Suko, RT 29 RW 03, Desa Sumberpucung, Kecamatan
Sumberpucung, Kabupaten Malang.
Ia adalah salah satu pekerja seks
(PSK) di kawasan lokalisasi setempat. Saat ditemui, Kamis (4/9/2014),
ia melempar senyum sambil mempersilakan Kompas.com duduk di ruang tamu wisma tanpa nama itu.
Perempuan
yang mengaku kelahiran Kabupaten Jember itu mengisahkan perjalanannya
hingga menjadi penghuni di lokasi prostitusi Suko. "Saya bisa di sini,
panjang ceritanya. Yang jelas, saya janda beranak empat sejak 2001
lalu," akunya.
Sebelum perempuan berinisial EST itu nekat
bekerja di Suko, dia menjadi PSK di "Gunung Sampan" di Situbondo. "Di
sana, saya hanya setahun, lalu diajak teman pindah ke sini," kata dia.
EST
nekat berprofesi menjadi "pelayan" pria hidung belang sejak ditinggal
mati suaminya, yang dibacok oleh perampok yang masuk ke rumahnya di
Jember. "Dulu saya keluarga baik, harmonis. Anak saya sudah empat," kata
dia.
Setelah tak kuat menahan penderitaan dan harus menanggung
kebutuhan keempat anaknya, EST memutuskan untuk menjadi pekerja seks.
"Saya pamit ke anak saya bekerja di Jakarta menjadi pembantu rumah
tangga. Saya pulang ke Jember, setiap tiga bulan sekali ketemu anak
saya," ungkapnya.
Kini, anak EST sudah beranjak dewasa. Ada yang
sudah hampir lulus SMA, dua masih SMP, dan satu lagi sudah tidak
sekolah setelah lulus MTs. "Mereka hidup bersama neneknya. Semua
kebutuhan mereka, saya yang menanggungnya," kata dia.
"Jika
lokasi pelacuran Suko ditutup, siapa yang akan memberi makan dan siap
membayar biaya sekolah anak-anak saya? Saya jadi PSK demi masa depan
empat anak saya," kata EST lagi.
EST mengaku menerima kebijakan
penutupan lokasi pelacuran Suko, jika pemerintah memberikan solusi yang
tidak merugikan bagi PSK dan mucikari. "Harus ada uang kompensasi, untuk
modal usaha atau pekerjaan lainnya. Saya malah bangga jika diberikan
pekerjaan," ujar dia.
Selama ini, pemerintah daerah belum memberi
kejelasan apakah ada uang pengganti kerugian atau tidak. "Kami juga
rakyat yang ingin hidup seperti layaknya rakyat lainnya. Saya di sini
bukan karena kemauan pribadi. Saya di sini atas dorongan dan desakan
kebutuhan ekonomi, demi masa depan empat anak saya," kata dia dengan
mata berkaca-kaca, dan kemudian menolak melanjutkan cerita perjalanan
hidupnya.
Pemerintah Kabupaten Malang pada November 2014
mendatang akan menutup tujuh lokasi pelacuran secara serentak. Hingga
kini, pemerintah belum siap memberikan kompensasi kepada semua PSK dan
mucikari karena pemerintah daerah tidak pernah memberikan izin operasi
ke semua kawasan lokalisasi.
Menurut data di Pemerintah Kabupaten Malang,
dari tujuh tempat pelacuran, terdapat 327 PSK dan 84 mucikari.
0 comments:
Post a Comment